Jurnal Penyesuaian: Memastikan Laporan Keuangan Akurat
Pentingnya Jurnal Penyesuaian dalam Akuntansi
Jurnal penyesuaian adalah proses akuntansi penting yang diperlukan untuk menyesuaikan catatan keuangan perusahaan dengan fakta sesungguhnya di akhir periode.
Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa catatan keuangan mencerminkan secara akurat kewajiban, ekuitas, pendapatan, dan beban yang sebenarnya diakui di akhir periode.
Fungsi dari jurnal penyesuaian adalah untuk memastikan bahwa perkiraan nominal dan riil mencerminkan harga yang sesungguhnya, serta untuk menyeimbangkan catatan keuangan sebelum dibuat laporan keuangan.
Jurnal penyesuaian dibuat berdasarkan pada data di neraca saldo dan data penyesuaian akhir periode.
Namun, tidak semua pos yang ada pada neraca saldo perlu jurnal penyesuaian. Posisi yang membutuhkan penyesuaian dapat bervariasi, tergantung pada situasi perusahaan.
Contoh posisi yang memerlukan jurnal penyesuaian adalah penghapusan piutang yang tidak tertagih, penyusutan aset tetap, dan pengakuan beban gaji yang belum dibayar.
Untuk membuat jurnal penyesuaian, langkah pertama adalah mengidentifikasi pos-pos yang memerlukan penyesuaian berdasarkan pada data neraca saldo dan data penyesuaian akhir periode.
Setelah itu, buatlah jurnal penyesuaian dengan menentukan jenis pos, nominal, dan jenis akun yang terkait. Terakhir, buatlah entri jurnal dan pastikan bahwa saldo akhir dari setiap jenis akun sesuai dengan hasil perhitungan yang seharusnya.
Penggunaan jurnal penyesuaian sangat penting dalam akuntansi karena memastikan bahwa catatan keuangan akurat dan dapat dipercaya.
Dengan memastikan bahwa catatan keuangan mencerminkan kondisi yang sebenarnya, perusahaan dapat membuat keputusan bisnis yang lebih baik dan menghindari masalah hukum dan perpajakan di masa depan.
Oleh karena itu, setiap perusahaan harus memahami pentingnya jurnal penyesuaian dan memastikan bahwa proses tersebut dilakukan secara benar dan teratur.
Langkah-langkah Penyesuaian Jurnal dalam Akuntansi
Dalam menerapkan suatu perlakuan akuntansi, terkadang terdapat kesalahan atau perbedaan antara jumlah transaksi yang seharusnya tercatat dengan jumlah yang sebenarnya dicatat.
Hal ini dapat terjadi karena transaksi diakui terlalu besar atau terlalu kecil, pengakuan yang terlalu awal atau terlalu akhir, atau penerapan metode penyusutan aset tetap yang tidak sesuai.
Untuk mengatasi perbedaan tersebut, perlu dilakukan penyesuaian jurnal.
Penyesuaian jurnal merupakan proses untuk mengoreksi atau menyesuaikan jumlah transaksi yang telah dicatat pada periode tertentu.
Tujuan dari penyesuaian jurnal adalah untuk memastikan bahwa laporan keuangan akurat dan dapat diandalkan. Penyesuaian jurnal dilakukan sebelum penutupan buku.
Berikut adalah langkah-langkah dalam melakukan penyesuaian jurnal:
Menyiapkan bukti transaksi yang perlu disesuaikan
Dalam tahap ini, perlu disiapkan dokumen-dokumen atau bukti-bukti transaksi yang memerlukan penyesuaian, seperti tagihan yang belum terbayar, pendapatan yang belum tercatat, atau biaya yang sudah terbayar.
Print out buku besar dan detail transaksi yang perlu disesuaikan
Selanjutnya, print out buku besar dan detail transaksi yang mengandung transaksi yang perlu disesuaikan. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengawasan dan verifikasi.
Teliti mengapa diperlukan penyesuaian dan kenapa bisa terjadi
Setelah itu, teliti mengapa perlu dilakukan penyesuaian dan kenapa bisa terjadi kesalahan atau perbedaan pada jumlah transaksi yang dicatat.
Menentukan besarnya nominal transaksi yang seharusnya terjadi
Setelah mengetahui penyebab perbedaan, tentukan besarnya nominal transaksi yang seharusnya terjadi. Kemudian, bandingkan dengan jumlah yang sebenarnya dicatat untuk mendapatkan selisihnya.
Menyiapkan daftar jurnal penyesuaian
Setelah mendapatkan selisih, siapkan daftar jurnal penyesuaian yang berisi rincian transaksi yang perlu disesuaikan beserta nominal yang harus diakui.
Melakukan jurnal penyesuaian Terakhir,
lakukan jurnal penyesuaian sesuai dengan daftar jurnal yang telah disiapkan. Pastikan jurnal penyesuaian telah disetujui oleh financial controller atau atasan yang lain sebelum dilakukan penutupan buku.
Dalam pelaksanaannya, penyesuaian jurnal perlu dilakukan secara hati-hati dan cermat. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa laporan keuangan yang dihasilkan akurat dan dapat diandalkan.
Selain itu, perlu juga memperhatikan regulasi dan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia, seperti PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan).
Ayat Jurnal Penyesuaian Perlengkapan
Dalam laporan keuangan sebuah perusahaan, perlengkapan dapat menjadi salah satu pos yang cukup signifikan.
Dalam neraca saldo, biasanya terdapat saldo perlengkapan yang mencerminkan jumlah perlengkapan yang dimiliki oleh perusahaan pada akhir periode.
Namun, karena penggunaan perlengkapan bisa berubah-ubah setiap periode, maka diperlukan ayat jurnal penyesuaian untuk mengakomodasi perubahan tersebut.
Contoh kasus, dalam sebuah perusahaan terdapat saldo perlengkapan sebesar Rp 2.500.000 dalam neraca saldo pada akhir periode. Namun, setelah dilakukan pengecekan, ternyata masih ada perlengkapan yang tersisa sebesar Rp 2.000.000. Oleh karena itu, perlu dilakukan ayat jurnal penyesuaian untuk memperbarui saldo perlengkapan yang sesuai dengan kondisi aktual.
Ayat jurnal penyesuaian yang tepat untuk kasus ini adalah dengan mendebit akun Beban Perlengkapan sebesar Rp 500.000 dan mengkredit akun Perlengkapan sebesar Rp 500.000. Nilai Rp 500.000 di sini didapatkan dari selisih antara saldo perlengkapan awal (Rp 2.500.000) dan nilai perlengkapan yang masih tersisa (Rp 2.000.000).
Berikut adalah tabel ayat jurnal untuk penyesuaian yang dijelaskan diatas:
| No. | Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|---|
| 1 | Beban Perlengkapan | Rp 500.000 | |
| 2 | Perlengkapan | Rp 500.000 |
Penjelasan:
- Akun Beban Perlengkapan didedebit sebesar Rp 500.000 karena nilai perlengkapan yang telah digunakan dianggap sebagai biaya dan harus dibebankan ke akun Beban Perlengkapan.
- Akun Perlengkapan dikredit sebesar Rp 500.000 karena nilai perlengkapan yang masih tersisa harus diakui sebagai aset dan dikreditkan ke akun Perlengkapan.
Dalam melakukan ayat jurnal penyesuaian ini, perlu diingat bahwa akun Perlengkapan yang dikredit adalah akun yang menampung nilai perlengkapan yang terpakai, bukan saldo perlengkapan awal yang tercantum dalam neraca saldo.
Dengan melakukan ayat jurnal penyesuaian yang tepat, perusahaan dapat memperbarui nilai perlengkapan yang sesuai dengan kondisi aktual dan mengoptimalkan penggunaan perlengkapan.
Baca juga : Mengenal Jurnal Penerimaan Kas: Pengertian, Fungsi, dan ContohMenentukan Depresiasi Aktiva Tetap dalam Jurnal Penyesuaian
Aktiva tetap merupakan aset yang dimiliki oleh perusahaan dengan harapan dapat digunakan dalam waktu yang lama.
Namun, nilai aktiva tetap tersebut akan mengalami penurunan seiring dengan berjalannya waktu, hal ini disebut dengan depresiasi.
Oleh karena itu, perlu dilakukan penyesuaian terhadap nilai aktiva tetap dalam neraca saldo dengan menentukan besaran depresiasi dalam jurnal penyesuaian.
Dalam contoh ini, terdapat saldo aktiva tetap sebesar Rp 20.000.000 dalam neraca saldo. Berdasarkan keterangan dalam ayat jurnal penyesuaian, aktiva tetap mengalami depresiasi sebesar 10% per tahun. Maka, dalam jurnal penyesuaian perlu ditentukan besaran depresiasi aktiva tetap tersebut.
Jurnal penyesuaian tersebut akan terdiri dari dua akun yaitu Beban Depresiasi Aktiva Tetap dan Akm Depresiasi Aktiva Tetap.
Beban Depresiasi Aktiva Tetap akan dicatat sebagai debet sebesar Rp 2.000.000, sedangkan Akm Depresiasi Aktiva Tetap akan dicatat sebagai kredit sebesar Rp 2.000.000.
Mengapa nilainya Rp 2.000.000? Nilai tersebut merupakan hasil perhitungan dari besaran depresiasi yang diterapkan pada aktiva tetap yang dimiliki perusahaan.
Dalam contoh ini, besaran depresiasi adalah sebesar 10% dari nilai aktiva tetap yang ada yaitu sebesar Rp 20.000.000, sehingga nilai depresiasi yang harus dicatat dalam jurnal penyesuaian adalah sebesar Rp 2.000.000.
Berikut adalah tabel ayat jurnal untuk penyesuaian yang dijelaskan diatas:
| No. | Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|---|
| 1 | Beban Depresiasi Aktiva Tetap | Rp 2.000.000 | |
| 2 | Akm Depresiasi Aktiva Tetap | Rp 2.000.000 |
Penjelasan:
- Akun Beban Depresiasi Aktiva Tetap didedebit sebesar Rp 2.000.000 karena besaran depresiasi aktiva tetap harus diakui sebagai biaya dalam periode tersebut dan dicatat dalam akun Beban Depresiasi Aktiva Tetap.
- Akun Akm Depresiasi Aktiva Tetap dikredit sebesar Rp 2.000.000 karena besaran depresiasi yang telah diakui harus dicatat dalam akun Akm Depresiasi Aktiva Tetap sebagai pengurang nilai buku aktiva tetap.
Dalam praktiknya, penentuan besaran depresiasi aktiva tetap dilakukan dengan mengacu pada peraturan perpajakan dan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia.
Perhitungan tersebut biasanya dijadikan sebagai dasar untuk menentukan besaran beban depresiasi yang akan dicatat dalam laporan keuangan perusahaan.
Sebagai contoh, perusahaan XYZ memiliki aktiva tetap sebesar Rp 50.000.000 dengan umur ekonomis selama 5 tahun dan nilai residu sebesar Rp 5.000.000. Berdasarkan PSAK No. 16 (Revisi 2011), besaran depresiasi yang harus dicatat dalam laporan keuangan perusahaan adalah sebesar Rp 9.000.000 per tahun.
Berikut adalah tabel ayat jurnal untuk mencatat depresiasi pada laporan keuangan perusahaan:
| No. | Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|---|
| 1 | Beban Depresiasi Aktiva Tetap | Rp 9.000.000 | |
| 2 | Akm Depresiasi Aktiva Tetap | Rp 9.000.000 |
Penjelasan:
- Akun Beban Depresiasi Aktiva Tetap didedebit sebesar Rp 9.000.000 karena besaran depresiasi aktiva tetap yang harus diakui sebagai biaya dalam periode tersebut dan dicatat dalam akun Beban Depresiasi Aktiva Tetap.
- Akun Akm Depresiasi Aktiva Tetap dikredit sebesar Rp 9.000.000 karena besaran depresiasi yang telah diakui harus dicatat dalam akun Akm Depresiasi Aktiva Tetap sebagai pengurang nilai buku aktiva tetap. Besaran depresiasi dihitung berdasarkan rumus: (nilai awal - nilai residu) / umur ekonomis = (Rp 50.000.000 - Rp 5.000.000) / 5 tahun = Rp 9.000.000 per tahun. Sesuai dengan PSAK No. 16 (Revisi 2011), besaran depresiasi harus dicatat dalam laporan keuangan perusahaan.
Cara Mencatat Beban yang Masih Harus Dibayar dalam Jurnal Penyesuaian
Beban yang masih harus dibayar merupakan suatu beban yang sudah terjadi pada periode laporan keuangan, tetapi belum terbayar hingga akhir periode tersebut.
Untuk mencatat beban ini dalam laporan keuangan, perlu dilakukan ayat jurnal penyesuaian yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku.
Contoh ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat beban gaji yang masih harus dibayar pada akhir periode adalah sebagai berikut:
· Pada tanggal 31 Desember, beban gaji yang masih harus dibayar sebesar Rp 1.500.000
| Nama Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Beban Gaji | Rp 1.500.000 | |
| Utang Gaji | Rp 1.500.000 |
Penjelasan:
Nilai beban gaji yang masih harus dibayar diambil dari catatan pembayaran gaji pada akhir periode. Dalam contoh di atas, nilai beban gaji yang masih harus dibayar sebesar Rp 1.500.000.
Nilai ini dicatat sebagai debet pada akun Beban Gaji, karena merupakan suatu beban yang sudah terjadi pada periode laporan keuangan.
Sedangkan, nilai yang sama juga dicatat sebagai kredit pada akun Utang Gaji, karena merupakan suatu kewajiban pembayaran yang masih harus dipenuhi oleh perusahaan pada periode berikutnya.
Dengan mencatat beban yang masih harus dibayar, perusahaan dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih akurat dan memperhitungkan semua kewajiban finansial yang harus dipenuhi.
Selain itu, hal ini juga dapat membantu perusahaan dalam pengambilan keputusan keuangan yang lebih baik di masa depan.
Namun, perlu diingat bahwa pencatatan beban yang masih harus dibayar harus dilakukan secara hati-hati dan akurat.
Jika pencatatan ini tidak dilakukan dengan benar, hal ini dapat mengakibatkan informasi keuangan yang tidak akurat dan mengganggu keputusan keuangan yang diambil oleh perusahaan.
Oleh karena itu, perusahaan perlu memiliki sistem akuntansi yang baik dan teratur untuk mencatat semua transaksi finansial dengan benar dan akurat.
Baca juga : Cara Menyajikan Laporan Keuangan yang Akurat dengan Akuntansi
Pendapatan yang Belum Terealisasi: Contoh Pengakuan Piutang dalam Jurnal Penyesuaian
Dalam kegiatan bisnis, seringkali perusahaan mengalami situasi di mana pendapatan yang sudah menjadi haknya belum diterima pada akhir periode.
Untuk mengakui pendapatan yang belum terealisasi ini, perusahaan dapat mencatatnya sebagai piutang dan mencatatnya di jurnal penyesuaian.
Sebagai contoh, pada tanggal 31 Desember, perusahaan ABC memiliki pendapatan yang masih harus diterima sebesar Rp 2.000.000. Untuk mencatat ini, perusahaan akan membuat jurnal penyesuaian dengan keterangan sebagai berikut:
| Nama Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Piutang | Rp 2.000.000 | |
| Pendapatan | Rp 2.000.000 |
Jurnal di atas menunjukkan bahwa perusahaan mencatat piutang sebesar Rp 2.000.000 sebagai debit dan pendapatan yang belum terealisasi sebesar Rp 2.000.000 sebagai kredit.
Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mengakui pendapatan yang belum terealisasi sebagai aset piutang dan menambahkan pendapatan tersebut ke dalam laporan keuangan perusahaan.
Dalam pengakuan piutang ini, perusahaan harus memastikan bahwa piutang tersebut dapat dipulihkan dalam jangka waktu yang wajar dan perlu menilai risiko ketidakmampuan pihak yang berutang untuk membayar piutang.
Selain itu, perusahaan harus memperhatikan konsistensi dalam pengakuan piutang untuk memenuhi prinsip akuntansi yang relevan.
Dalam praktiknya, pengakuan pendapatan yang masih harus diterima dapat bervariasi tergantung pada jenis bisnis dan metode akuntansi yang digunakan.
Namun, penting bagi perusahaan untuk memahami pengakuan piutang dan implikasinya dalam laporan keuangan.
Misalnya, pengakuan piutang dapat mempengaruhi rasio keuangan dan memberikan gambaran yang akurat tentang kondisi keuangan perusahaan.
Cara Pencatatan Beban Dibayar Dimuka
Beban dibayar dimuka merupakan transaksi yang pada saat terjadinya dikelompokkan sebagai harta (aktiva), tetapi akan menjadi beban di kemudian hari.
Pencatatan beban dibayar dimuka dapat dilakukan dengan 2 cara tergantung dari yang ada di neraca saldo, yaitu sebagai aset (pendekatan neraca) atau sebagai beban (pendekatan rugi/laba).
Jika dicatat sebagai aset (pendekatan neraca), beban dibayar dimuka akan dicatat pada neraca saldo sebagai nilai yang terpakai, dengan nilai yang diambil adalah nilai yang terpakai pada periode tersebut.
Sebagai contoh, jika terdapat iklan dibayar dimuka sebesar Rp 2.000.000 dan pada tanggal 1 Oktober 2017 sudah terbit 3 kali dari 5x penerbitan, maka nilai yang terpakai adalah 3/5 x Rp 2.000.000 = Rp 1.200.000. Pencatatan jurnalnya adalah dengan mendebet akun Beban Iklan sebesar Rp 1.200.000 dan mengkredit akun Iklan Dibayar Dimuka sebesar Rp 1.200.000.
Sedangkan jika dicatat sebagai beban (pendekatan rugi/laba), beban dibayar dimuka akan dicatat pada neraca saldo sebagai nilai yang belum terpakai pada periode tersebut.
Sebagai contoh, jika terdapat iklan dibayar dimuka sebesar Rp 2.000.000 dan pada tanggal 1 Oktober 2017 sudah terbit 3 kali dari 5x penerbitan, maka nilai yang belum terpakai adalah 2/5 x Rp 2.000.000 = Rp 800.000. Pencatatan jurnalnya adalah dengan mengkredit akun Beban Iklan sebesar Rp 800.000 dan mendebet akun Iklan Dibayar Dimuka sebesar Rp 800.000.
Berikut adalah tabel yang berisi pencatatan ayat jurnal pada contoh beban dibayar dimuka:
| Nama Akun | Debet | Kredit |
|---|---|---|
| Pendekatan Neraca | ||
| Beban Iklan | Rp. 1.200.000 | |
| Iklan Dibayar Dimuka | Rp. 1.200.000 | |
| Pendekatan Rugi/Laba | ||
| Iklan Dibayar Dimuka | Rp. 800.000 | |
| Beban Iklan | Rp. 800.000 |
Pencatatan beban dibayar dimuka penting untuk dilakukan agar laporan keuangan perusahaan dapat menggambarkan kondisi keuangan yang sebenarnya.
Dalam PSAK 23 tentang Pendapatan, disebutkan bahwa pengakuan pendapatan harus dilakukan pada saat pendapatan dapat diukur secara handal dan dengan cukup pasti, serta kemungkinan manfaat ekonomi akan mengalir ke perusahaan.
Oleh karena itu, jika terdapat transaksi beban dibayar dimuka yang belum terpakai, maka harus dilakukan pencatatan yang tepat agar pengakuan pendapatan dapat dilakukan secara akurat.
Baca juga : Tahapan Siklus Akuntansi : Hasilkan Laporan Keuangan yang Akurat
Pendapatan Diterima Dimuka dan Cara Pencatatannya
Pendapatan diterima dimuka adalah transaksi yang dicatat sebagai kewajiban tetapi akan menjadi pendapatan di masa mendatang.
Biasanya, pendapatan ini muncul ketika suatu perusahaan telah menerima pembayaran atas suatu pekerjaan atau produk yang akan diberikan di masa depan, tetapi belum menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Pencatatan pendapatan diterima dimuka dilakukan dengan dua cara, tergantung dari akun apa yang ada dalam neraca saldo.
Cara pertama adalah dengan mencatatnya sebagai kewajiban.
Pada cara ini, dalam neraca saldo terdapat akun sewa diterima dimuka sebesar Rp 3.000.000. Jurnal penyesuaian untuk mencatat pendapatan diterima dimuka ini akan didebetkan pada akun Sewa Diterima Dimuka sebesar Rp 2.000.000, sementara pada akun Pendapatan Sewa akan dikreditkan sebesar Rp 2.000.000.
Cara kedua dalam mencatat pendapatan diterima dimuka adalah dengan mencatatnya sebagai pendapatan.
Dalam neraca saldo terdapat akun Pendapatan Sewa sebesar Rp 3.000.000. Jurnal penyesuaian untuk cara ini akan didebetkan pada akun Pendapatan Sewa sebesar Rp 1.000.000, dan akan dikreditkan pada akun Sewa Diterima Dimuka sebesar Rp 1.000.000.
Berikut adalah tabel untuk masing-masing ayat jurnal yang disebutkan di atas:
a. Pendapatan Diterima Dimuka Dicatat sebagai Kewajiban
| Nama Akun | Debet | Kredit |
|---|---|---|
| Sewa Diterima Dimuka | Rp 2.000.000 | - |
| Pendapatan Sewa | - | Rp 2.000.000 |
b. Pendapatan Diterima Dimuka Dicatat sebagai Pendapatan
| Nama Akun | Debet | Kredit |
|---|---|---|
| Pendapatan Sewa | Rp 1.000.000 | - |
| Sewa Diterima Dimuka | - | Rp 1.000.000 |
Perlu dicatat bahwa dalam pencatatan pendapatan diterima dimuka, nilai yang diambil untuk dicatat tergantung dari cara pencatatan yang digunakan.
Jika dicatat sebagai kewajiban, maka nilai yang diambil adalah nilai yang sudah menjadi pendapatan, sedangkan jika dicatat sebagai pendapatan, maka nilai yang diambil adalah nilai yang masih menjadi kewajiban.
Dalam prakteknya, pencatatan pendapatan diterima dimuka sering digunakan pada bisnis yang mengharuskan pembayaran di depan seperti jasa konstruksi atau penyewaan properti.
Namun, penting untuk diingat bahwa pencatatan pendapatan diterima dimuka harus dilakukan dengan benar dan akurat agar tidak mengganggu neraca keuangan perusahaan.
Contoh penerapan pencatatan pendapatan diterima dimuka adalah pada suatu perusahaan jasa konstruksi yang menerima pembayaran dimuka dari klien sebesar Rp 50.000.000 untuk membangun sebuah gedung.
Pencatatan dilakukan dengan mencatatnya sebagai kewajiban, dengan mengambil nilai sebesar Rp 30.000.000 yang sudah menjadi pendapatan, dan mencatatnya pada akun Sewa Diterima Dimuka sebesar Rp 30.000.000 dan pada akun Pendapatan Sewa sebesar Rp 30.000.000.
Setelah perusahaan menyelesaikan proyek tersebut, maka nilai sisa Rp 20.000.000 dapat dicatat sebagai pendapatan pada akun Pendapatan Sewa sebesar Rp 20.000.000 dan pada akun Sewa Diterima Dimuka sebesar Rp 20.000.000.
Berikut adalah tabel ayat jurnal untuk contoh penerapan pencatatan pendapatan diterima dimuka pada perusahaan jasa konstruksi:
| Nama Akun | Debet | Kredit |
|---|---|---|
| Sewa Diterima Dimuka | Rp 30.000.000 | |
| Pendapatan Sewa | Rp 30.000.000 |
Penjelasan:
Pencatatan dilakukan dengan mencatat pembayaran dimuka sebagai kewajiban pada akun Sewa Diterima Dimuka sebesar Rp 30.000.000 dan mencatatnya pada akun Pendapatan Sewa sebesar Rp 30.000.000, mengambil nilai sebesar Rp 30.000.000 yang sudah menjadi pendapatan.
| Nama Akun | Debet | Kredit |
|---|---|---|
| Pendapatan Sewa | Rp 20.000.000 | |
| Sewa Diterima Dimuka | Rp 20.000.000 |
Penjelasan:
Setelah perusahaan menyelesaikan proyek tersebut, nilai sisa Rp 20.000.000 dapat dicatat sebagai pendapatan pada akun Pendapatan Sewa sebesar Rp 20.000.000 dan pada akun Sewa Diterima Dimuka sebesar Rp 20.000.000.

