Metode Tradisional dan ABC: Cara Menghitung Biaya Produksi
Metode Tradisional dan ABC (Activity Based Costing) untuk Menghitung Biaya Produksi
Penggunaan metode tradisional dalam menghitung biaya produksi telah dilakukan dalam industri selama beberapa dekade.
Metode ini membagi biaya produksi menjadi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.
Namun, metode tradisional ini seringkali kurang akurat karena tidak memperhitungkan kompleksitas kegiatan yang terlibat dalam proses produksi.
Untuk mengatasi kekurangan metode tradisional, Activity Based Costing (ABC) diperkenalkan sebagai alternatif yang lebih akurat.
Metode ABC memperhitungkan biaya berdasarkan aktivitas yang dilakukan dalam proses produksi. Dengan cara ini, biaya overhead yang sebelumnya dianggap sebagai biaya tetap dapat dikaitkan dengan aktivitas tertentu dan dihitung secara lebih akurat.
Contoh penggunaan metode ABC dapat dilihat pada perusahaan manufaktur yang menghasilkan beberapa jenis produk. Dalam metode tradisional, biaya overhead pabrik dianggap sama untuk setiap produk. Namun, dengan metode ABC, biaya overhead pabrik yang berkaitan dengan aktivitas khusus seperti perawatan mesin atau pengaturan produksi, dapat dialokasikan secara akurat untuk setiap produk.
Dalam penghitungan biaya produksi, metode tradisional dan ABC sama-sama digunakan. Namun, metode ABC memberikan informasi yang lebih akurat dan detail, sehingga dapat membantu perusahaan dalam pengambilan keputusan yang lebih baik terkait dengan biaya produksi.
Dalam pelaporan keuangan, PSAK No. 4 tentang Laporan Keuangan Keuangan Entitas Manufaktur mengatur penggunaan metode ABC dalam penghitungan biaya produksi.
PSAK ini menekankan pentingnya penggunaan metode yang akurat dalam pelaporan keuangan.
Dalam menjalankan bisnis, penting bagi perusahaan untuk memilih metode penghitungan biaya produksi yang sesuai dengan kebutuhan dan sumber daya yang dimiliki.
Metode tradisional mungkin cocok untuk perusahaan kecil atau yang menghasilkan produk dengan tingkat kompleksitas yang rendah, sementara ABC lebih cocok untuk perusahaan besar atau dengan tingkat kompleksitas produksi yang tinggi.
Contoh Soal
Sebuah pabrik memproduksi tas dan sepatu. Total jam kerja langsung untuk tas dan sepatu masing-masing adalah 5.000 jam dan 10.000 jam. Biaya utama untuk memproduksi 10.000 tas adalah Rp 60.000.000 dan biaya utama untuk memproduksi 40.000 sepatu adalah Rp 120.000.000. Tarif overhead pabrik dihitung dengan membagi biaya overhead pabrik sebesar Rp 4.500.000 dengan total jam kerja langsung sebesar 15.000 jam. berikut data yang lengkap
| Keterangan | Produk | Tas | Sepatu |
|---|---|---|---|
| Volume produksi | Rp 10.000 | Rp 40.000 | |
| Harga Jual | Rp 12.000 | Rp 6.000 | |
| Biaya Utama | Rp 6.000 | Rp 3.000 | |
| Jam Kerja Langsung | Rp 5.000 | Rp 10.000 |
| Aktivitas | Anggaran Cost |
|---|---|
| Rekayasa | Rp 300.000 |
| Set up | Rp 1.000.000 |
| Perputaran mesin | Rp 3.000.000 |
| Pengemasan | Rp 200.000 |
| Total | Rp 4.500.000 |
| Aktivitas | Konsumsi/Realisasi | Total |
|---|---|---|
| Rekayasa (jam) | 6.000 | 9.000 |
| Set up (jam) | 400 | 600 |
| Perputaran mesin (jam) | 50.000 | 100.000 |
| Pengemasan | 5.000 | 20.000 |
Hitunglah biaya overhead yang dibebankan untuk setiap produk dan biaya per unit produk
Baca juga : Mengenal Jurnal Penerimaan Kas: Pengertian, Fungsi, dan ContohCara penyelesaian soal menggunakan metode tradisional:
- Total jam kerja langsung untuk tas dan sepatu adalah sebagai berikut:
Total jam kerja langsung = Jam kerja langsung tas + Jam kerja langsung sepatu = 5.000 + 10.000 = 15.000
- Tarif overhead pabrik per jam kerja langsung dihitung sebagai berikut:
Tarif Overhead Pabrik: Jam Kerja Langsung = Rp. 4.500.000 : 15.000 = Rp. 300/JKL
- Biaya overhead yang dibebankan untuk setiap produk adalah sebagai berikut:
| Produk | Total Biaya Overhead | Jumlah Unit | Overhead per Unit |
|---|---|---|---|
| Tas | Rp 1.500.000 | 10.000 | Rp 150 |
| Sepatu | Rp 3.000.000 | 40.000 | Rp 75 |
Biaya Overhead Pabrik Tas = Rp. 300 x 5.000 = Rp. 1.500.000
Biaya Overhead Pabrik Tas = Rp. 300 x 10.000 = Rp. 3.000.000
- Biaya per unit produk dihitung sebagai berikut:
| Keterangan | Tas | Sepatu |
|---|---|---|
| Biaya Utama | Rp 60.000.000 (Rp 6.000 x 10.000) | Rp 120.000.000 (Rp 3.000 x 40.000) |
| Biaya Overhead | Rp 3.000.000 (Rp 300 x 10.000) | Rp 12.000.000 (Rp 300 x 40.000) |
| Total Biaya | Rp 63.000.000 | Rp 132.000.000 |
| Unit Produksi | 10.000 | 40.000 |
| Biaya/Unit | Rp 6.300 | Rp 3.300 |
Menghitung Biaya per Unit menggunakan Metode ABC (Activity Based Costing)
- Menghitung Tarif Aktivitas
| Aktivitas | Total Biaya | Konsumsi Aktivitas | Tarif Aktivitas |
|---|---|---|---|
| Rekayasa (jam) | Rp 300.000 | Rp 15.000 | Rp 20 |
| Set up (jam) | Rp 1.000.000 | Rp 1.000 | Rp 1.000 |
| Perputaran Mesin (jam) | Rp 3.000.000 | Rp 150.000 | Rp 20 |
| Pegemasan | Rp 200.000 | Rp 25.000 | Rp 8 |
| Total | Rp 4.500.000 | Rp 191.000 | Rp 1.048 |
- Biaya Overhead yang Dibebankan
a. Produk Tas
| Aktivitas | Tarif | Konsumsi | Total BOP | BOP/Unit |
|---|---|---|---|---|
| Rekayasa (jam) | Rp 20 | 6.000 | Rp 120.000 | Rp 20 |
| Set up (jam) | Rp 1.000 | 400 | Rp 400.000 | Rp 1.000 |
| Perputaran Mesin (jam) | Rp 20 | 50.000 | Rp 1.000.000 | Rp 20 |
| Pegemasan | Rp 8 | 5.000 | Rp 40.000 | Rp 8 |
| Total | Rp 1.048 | 61.400 | Rp 1.560.000 | Rp 1.048 |
b. Produk Sepatu
| Aktivitas | Tarif | Konsumsi | Total BOP | BOP/Unit |
|---|---|---|---|---|
| Rekayasa (jam) | Rp 20 | 9.000 | Rp 180.000 | Rp 20 |
| Set up (jam) | Rp 1.000 | 600 | Rp 600.000 | Rp 1.000 |
| Perputaran Mesin (jam) | Rp 20 | 100.000 | Rp 2.000.000 | Rp 20 |
| Pegemasan | Rp 8 | 20.000 | Rp 160.000 | Rp 8 |
| Total | Rp 1.048 | 129.600 | Rp 2.940.000 | Rp 1.048 |
- Menghitung Biaya per Unit Produk
| Keterangan | Tas | Sepatu |
|---|---|---|
| Biaya Utama | Rp 60.000.000 | Rp 120.000.000 |
| Biaya Overhead | Rp 10.480.000 | Rp 41.920.000 |
| Total Biaya | Rp 70.480.000 | Rp 161.920.000 |
| Unit Produksi | 10.000 | 40.000 |
| Biaya/Unit | Rp 7.048 | Rp 4.048 |

